RRRec Fest In The Valley Hadirkan Festival Seni Rekreasi Urban
September 30, 2015
Perkawinan rekreasi, seni, dan alam.

oleh Rio Pratama & W.Nugroho
foto: MTV Indonesia

Seperti halnya 3 kebutuhan utama, rekreasi saat ini masuk dalam jajaran kebutuhan premier masyarakat urban Jakarta. Melepas penat, menghindari bising kota yang semrawut dan menyerahkan diri kepada alam terdengar tidak berlebihan. Ditambah dengan sentuhan seni, sepertinya bukan ide buruk selera jika sebuah festival yang bisa mengakomodir semua hal tersebut diadakan. Oleh karena itu, Ruang Rupa, sebuah kolektif seniman di Jakarta, kembali menggelar RRRec Fest In The Valley 2015.

Digelar pada 25-27 September 2015 kemarin di Tanakita Camping Ground, Gunung Gede Pangrango, Sukabumi, Jawa Barat, RRRec Fest In The Valley hadir dengan sejumlah program yang segar, diantaranya suguhan penampil dari Indonesia dan beberapa dari negara Asia. Selain musik, festival ini juga punya sejumlah program diskusi menarik seputar seni kontemporer yang menghadirkan pembicara berpengalaman, plus serta sajian hiburan menghanyutkan yang menambah keriaan festival di alam terbuka ini.

Kami beruntung menjadi salah satu media yang terlibat dalam festival seni di alam ini, dan seperti inilah keseruannya!

Day 1
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 6 jam, akhirnya rombongan peserta dan pengisi acara serta media undangan sampai juga di Tanakita Camping Ground, Gunung Gede Pangrango, Sukabumi, Jawa Barat. Hujan tak menyiutkan semangat kami, selepas sore ditengah embun yang menyeruak, sejumlah program berjalan sesuai jadwal. Malam pertama kami diisi oleh penampilan musisi penuh talenta asal Bandung, Bin Idris yang mengajarkan jika gitar akustik juga bisa tampil gahar dan kejam.

RRREC FEST2 imagew

Selanjutnya ada primadona malam pertama, yaitu duo magically avant pop asal Jepang, Tenniscoats yang menyuguhkan penampilan atraktif nan komunikatif dengan berjalan mengitari dan menghampiri seluruh penonton malam itu. Berselang beberapa waktu, DJ Sniff melancarkan serangan experimental noise-nya yang berbahaya dipanggung berbeda. Sayangnya sebagian penonton yang hadir sepertinya tidak terlalu kuat menahan gempuran suara distrorsi yang dilancarkan oleh sang DJ. Malam itu ditutup dengan suguhan musik dansa yang menghangatkan suasana dari W Music DJ set.
Day 2
Kali ini kegiatan dimulai sejak matahari masih malu mengintip dibalik awan pagi. Selepas sedikit pemanasan, sarapan berkualitas, maka perbincangan hangat di pagi hari dengan tema Toleransi digelar di area Tanakita. Menghadirkan Ade Darmawan, Azer, dan The Popoh, perbincangan pagi itu berlangsung seru dan sengit. Setelah suasana hangat, perbincangan menarik lainnya berlangsung di level 2 Tanakita dengan tema South East Asia Music Network: A Brief Look of Festivals in Asia. Matahari tidak pernah berada tepat di atas kepala, karena sepertinya alam mendukung festival seni di alam ini sepenuhnya. Selepas santap siang, seniman beat-box experimental. Kok Siew-Wai tampil di panggung utama berbentuk bola mata besar. Dilanjutkan dengan sajian luar biasa perkawinan puisi tegas dan nada gusar punk dari cello bass oleh Yui-Saowakhon Muangkruan. Berturut-turut, unit indie rock asal Jakarta, Polka Wars dan dentuman distorsi kasar yang gahar dari Jogja Noise Bombing bergantian memekakkan telingan para penonton. Menutup senja yang genit, Efek Rumah Kaca hadir dengan penampilan yang enerjik dengan sejumlah nomor andalan, plus single terbaru mereka yang khusus dimainkan pertama kalinya, yaitu “Putih”.

IMG_7659

Selepas jeda, Sigmun membakar semangat yang sempat dingin dengan suguhan rock berat bercampur aroma psikadelik yang pekat dalam kelas berbeda. Dipanggung berbeda, lantunan nada melankolis dari Pemandangan kembali menyejukkan para peserta yang sebagian besar tengah berbalut kain hangat. Kemudian hadirlah Silampukau, 3 pemuda Surabaya yang membuai para peserta dengan sentuhan folk pop yang hangat namun cukup berat. Mengupas problematika kehidupan kampung halaman, trio ini membeberkan dengan gamblang bagaimana banyak cerita bergulir di Surabaya. Luar biasa. Akhirnya penampilan yang paling ditunggu-tunggu datang juga. Sebuah band dangdut kontemporer legendaris yaitu OM PMR (Orkes Melayu Pengantar Minum Racun) berhasil membuat semua peserta bergoyang mengikuti irama. Sederet tembang kenangan dilancarkan seperti “Judul-Judulan”, “Bintangmu Bintangku” dan juga beberapa track anyar dari album terbaru seperti “Tato Atau Panu” & “Uang”. Penampilannya suskes membuat semua peserta bergoyang “rusuh” sampai merangsak ke bibir panggung.

RRREC FEST3

Lepas dari hentakan gendang kulit lembu, peserta kembali diajak bersuka cita dengan bernyanyi bersama lagu-lagu masa kini dan sejumlah tembang kenangan bersama Oomleo Berkaraoke di Gang Senggol stage, Rumamerah. Sedikit bertukar jadwal tampil, MMS beraksi sekitar 1 jam setelah Oomleo membuat semua yang hadir bernyanyi bersama. MMS menutup malam bahagia itu dengan sejumlah tembang edgy nan artsy dari koleksi piringan hitamnya.

Day 3
Pagi yang cukup cerah di hari ketiga membuat hampir seluruh peserta bangun lebih awal. Kegiatan diawali sesi diskusi bersama WALHI. Ditempat berbeda, RURU Kids hadir sebagai hiburan untuk para anak yang ikut dalam RRRec Fest In The Valley tahun ini. RURU Kids adalah sebuah program baru untuk anak yang menyajikan seni sebagai media edukasi dalam bentuk visualisasi. Anak-anak diajak untuk menggambar menggunakan media kanvas atau bahkan tubuh untuk mengungkapkan ekspresi mereka. Sebelum matahari semakin tinggi, sebuah diskusi kembali digelar bertema musik & lirik bertajuk Lirik-Lirikan. Sebagai pembicara, turut hadir Jimi Multazam, Cholil Mahmud, dan Harlan Boer.

RRREC FEST6 RRREC FEST5

Selepas makan siang, aksi dari beberapa seniman Asia yang tergabung dalam Ensembles Asia yang dihuni oleh Jimbot, Jojga Noise Bombing, DJ Sniff, Bin Idris, Kok Siew-Wai, dan Yui-Saowakhon Muangkruan menghadirkan bebunyian distorsi eksperimental gabungan dari berbagai kultur dan negara di Asia. Menarik, tapi nampaknya cukup berat untuk bisa dimengerti oleh para peserta. Meski begitu penampilan mereka tetap luar biasa dan jenius. Sore menjelang, gelaran festival ini ditutup dengan manis oleh penampilan lincah dan suara genit Stars & Rabbit yang membuat festival ini menjadi semakin spesial dan sulit untuk dilupakan.

Masih kurang cerita kami? Nih  kita kasih liputan videonya,

 

Sampai bertemu di RRRec Fest In The Valley 2016, Ciao!