RRRec Fest In The Valley Hadirkan Aura Eksperimental
October 2, 2015

Warna eksperimental mendominasi gelaran RRRec Fest In The Valley tahun ini. 

oleh Rio Pratama dan W.Nugroho
foto: Dok. Agung Hartamurti & Haviz (Irockumentary); Yose Riandi

Sesuatu terasa berbeda di RREC FEST In The Valley 2015. Tampilnya beberapa musisi dengan sentuhan musik eksperimental memberikan warna tersendiri dalam perhelatan tahun kedua festival seni kontemporer & musik di alam terbuka ini. Deretan nama seperti Bin Idris, Jogja Noise Bombing, Jimbot, DJ Sniff, Kok Siew-Wai, dan Yui-Saowakhon Muangkruan yang tergabung dalam The Ensembles Asia memberikan kontribusi tak kasat mata melalui sajian musik eksperimental yang mereka sajikan. Rasanya seperti berada dalam ruang lain dalam jajahan distorsi kasar dan norma buruk metronom.

Bukan tanpa sengaja, ambien ini tercipta lewat kerjasama Ruang Rupa selaku penyelenggara dengan Asian Music Network hasil gagasan dari DJ Sniff a.k.a Takuro Mizuta Lippit asal Jepang. Asian Music Network yang berbasis di Jepang ini sendiri memiliki misi yang cukup mulia yaitu membawa sejumlah musisi ekperimentalis bertalenta dari sejumlah negera di Asia dalam genre distorsi bentuk lainnya keseluruh dunia. Luar biasa, bukan!

rrrec-fest-in-the-valley-2015-agung-hartamurti-9452

Yui-Saowakhon Muangkruan (Thailand) | foto: Agung Hartamurti | IROCKUMENTARY

Aksi sejumlah seniman distrosi tersebut sontak mengundang decak kagum para peserta, walupun tanpa dipungkiri tidak sedikit peserta yang harus mengerutkan dahi untuk bisa menikmati apa yang mereka sajikan. Bahkan lebih dari itu, sebagian peserta ada yang sampai meninggalkan venue karena merasa sulit untuk mencerna jenis musik mereka. Tapi sekali lagi, hal tersebut bukanlah masalah besar, cuma masalah selera. Justru kehadiran mereka memberikan warna yang berbeda pada perhelatan RRRec fest In The Valley 2015.

rrrec-fest-in-the-valley-2015-agung-hartamurti-9695

Jogja Noise Bombing: Agung Hartamurti | IROCKUMENTARY

Tidak melulu kasar, Bin Idris hadir dengan sayatan senar gitar akustik dengan sound echo meraung-raung. Meski minim ekspresi, Bin Idris tetap membuat penonton terpukau seperti penyihir yang bisa membuat gitarnya bermain sesuai dengan keinginannya. Lalu ada Kok Siew-Wai, musisi asal tetangga serumpun, Malaysia yang menghadirkan esensi beat-box dalam kelas tersendiri. Bukan suara beat elektronik yang ditirukan oleh sang seniman, melainkan suara decit dan pekik seperti binatang. Sepintas seperti mendengarkan sound effect dalam sebuah film fiksi. Musisi muda bertalenta asal Thailand, Yui-Saowakhon Muangkruan yang memilih cello bass sebagai senjata akan kecintaannya terhadap etos punk dan sastra jahat. Tampil memukau di hari kedua, sayang masalah teknis sempat sedikit menganggunya. Tapi siapa peduli teknis, ini eksperimental, bung!

rrrec-fest-in-the-valley-2015-haviz-maulana-5577

dj sniff | IROCKUMENTARY

Jimbot sebagai hasil kreasi dari perzinahan seni tradisional dan kultur urban juga memberikan kontribusi yang besar terhadap terciptanya ambien musik eksperimental yang kental di festival tahun ini. Petikan serta sayatan jahat kecapi dan ketukan khas gendang kulit lembu dari Jawa Barat dimainkan dengan kasar dan tidak beraturan sehingga menghasilkan sebuah satuan suara yang tidak biasa. Jogja Noise Bombing bukanlah perusak pesta, mereka adalah zat terlarang yang bisa membuat sebuah pesta semakin “pecah”. Pilihan distorsi kasar bukanlah ide buruk selera yang dilantunkan dengan apik dan terus diulang sehingga membuat suasana sore di hari kedua festival seni kontemporer & musik di alam terbuka ini terasa lebih menghanyutkan.

Terakhir tentu saja penampilan dari Takuro Mizuta Lippit a.k.a DJ Sniff sang pemrakarsa The Asian Ensembles. Sedikit di luar ekspektasi, sebagian penonton sempat meninggalkan venue-nya ketika sang DJ beraksi di hari pertama. Untuk 15 menit pertama, para penonton yang hadir tampak masih mencoba untuk mencerna sajian distorsi kasar yang dilancarkan, namun untuk menit-menit selanjutnya tampaknya mereka lelah dan memilih untuk menepi. Namun saat tampil bersama empat rekan lainnya sebagai closing performance di hari terakhir festival ini, DJ Sniff menunjukan kelasnya sebagai seorang noise maker ulung yang jenius.

Terlepas dari apa yang mereka tampilkan, sajian musik eksperimental ini memberikan warna dan ambien berbeda pada perhelatan festival tahun ini dan itu adalah yang bagus, bukan! Mari nantikan apa lagi kejutan yang hadir dalam RRRec fest In The Valley 2016. Sampai bertemu di sudut gunung itu.