[Q&A] Iga Massardi: “Musik Barasuara Dibuat Untuk Meledak”
September 28, 2015
Simak interview MTV dengan vokalis/gitaris utama Barasuara.

oleh: w.nugroho
foto: Barasuara

Tidak mudah membuat band yang tampil eksplosif di atas panggung, melagukan lirik dan musik yang cerdas. Dari sekian banyak band, mungkin Barasuara adalah salah satunya. Mereka adalah kolektif musisi dan penyanyi di luar radar yang punya ketrampilan mumpuni dan sangat berkualitas.

Berkenaan dengan dirilisnya single “Bahas Bahasa” serta kabar deras tentang persiapan Dirilisnya debut album mereka, Taifun pada Oktober besok, MTV berkesempatan mengobrol dengan salah satu penggagas Barasuara, Iga Massardi.

halo Iga, apa kabar? Bagaimana persiapan album Barasuara?
Baik-baik. Untuk album sekarang proses sudah menuju akhir. Cover sedang diproduksi, bulan Oktober akan mulai dijual.

rekamannya sendiri sudah dari 2014 ya?
Bahkan beberapa lagu direkam sejak tahun 2012, namun sempat kami rekam ulang karena soundnya dirasa kurang memuaskan.

darimana awalnya membentuk Barasuara?
Iga: Barasuara memang awalnya merupakan rencana gue untuk merilis lagu-lagu yang gue buat sendiri. Alih-alih menjadikan ini ‘solo project’, gue lebih memilih untuk mengerjakan lagu-lagu itu bersama-sama sebagai sebuah band.

bagaimana lo bisa mengumpulkan penyanyi dan musisi-musisi berbakat ini?
Proses mengumpulkan masing-masing personel memang sangat dipikirkan. Orang pertama yang gue ajak itu TJ lalu menyusul Marco dan Asteriska. Awalnya Pandu Fuzz (Fuzztoni – gitaris Morfem) yang bermain bass, namun karena jadwalnya padat, akhirnya masuk Gerald, secara tidak sengaja. Awalnya ini ide Marco untuk mengajak Gerald, akhirnya keterusan dan sangat cocok. Lalu setelah penampilan perdana kami di Tokove, kami mengajak Puti Chitara untuk bergabung. Karena warna vokalnya bisa memperkaya musik Barasuara.

IMG_4865

Barasuara, kika: TJ (gitar), Asteriska (vokal), Gerald (bas), Marco (drum), Iga (vokal/gitar), Puti Chitara (vokal)

meski lo menulis lagu, apa semua personil juga ikut andil dalam pembuatan lagu?
Sebetulnya pada akhirnya cara kerja Barasuara jadi seperti band pada umumnya. Lagu dan lirik memang gue yang tulis, namun aransemen sebagian besar dikerjakan bareng anak-anak. Input dari mereka sangat krusial dalam pembentukan lagunya. Gue hanya membawa bagan dasarnya, sisanya hasil brainstorm bareng anak-anak.

meledak-ledak, itu ciri yang bisa kami lihat dari Barasuara. Bagaimana lo melihat musik Barasuara?
Musik barasuara memang dibuat untuk bisa ‘meledak’ di atas panggung paling tidak untuk para pemainnya. Semua aransemennya sengaja dibuat ‘fisikal’ karena energi aransemen terutama di segi ritme memang ditujukan supaya bisa ada kontak dengan gerak fisik para pemainnya.

Bara

debut album Barasuara, Taifun

bagaimana melihat respon crowd terhadap musik Barasuara?
Sejauh yang gue lihat dari penonton terutama di beberapa gig yang space-nya kecil, mereka cukup bisa ngasih energi balik yang asik ke band-nya. Namun untuk beberapa venue yang lebih besar sepertinya memang lagu-lagunya maish butuh waktu untuk bisa diresapi. Tapi ada satu kejadian yang sangat istimewa adalah ketika kita berkolaborasi dengan ERK kemarin, ketika penonton menyanyikan Api dan Lentera tanpa dikomando. Sangat menyentuh dan tidak disangka. Sejauh ini, respon crowd buat barasuara, melebihi ekspetasi. Mengingat kami belum punya apa-apa sebelumnya. Bahkan rilis single baru tanggal 16 September. Video dari Sounds From The Corner berjasa besar untuk membantu penyebaran lagu-lagu Barasuara. Berawal dari video ini lah lagu-lagunya sedikit lebih sedikit tersebar.

semua lagu Barasuara memakai bahasa Indonesia. Ada alasan tertentu memakai lirik bahasa Indonesia?
Karena menurut gue, lirik bahasa Indonesia punya koneksi yang ‘langsung’ ke pendengar dan band itu sendiri. Dari segi pemahaman dan respon juga, lirik Indonesia bisa lugas tanpa hambatan, ibaratnya. Dan yang paling utama gue pribadi nggak ngerasa canggung untuk menyanyikannya.

Tunggu album debut Barasuara Taifun, pantau terus social media mereka di @barasuara